April 19, 2011

Istikhaarah: The Guidance Prayer

In The name of Allah,The Most Merciful,The Most gracious


As humans, we are truly powerless, especially when it comes to the unseen future. So why shouldn’t we turn to Allaah and seek His perfect help whenever we require it? Allaah responds to the call of His servant when he asks Him for guidance. After all, we are seeking to do something in order to please Him.

Istikhaarah means to ask Allah to guide you to the path best for you between two Islamically permissible options. In matters that are waajib (obligatory), haraam (forbidden) or makrooh (disliked) there is no need to pray Istikhaarah. Salaat-ul-Istikharah should only be used for matters that are mubaah (allowed) or in matters that are mustahabb (liked or encouraged), in which there is a decision to be made as to which one should be given priority.

Many wrong notions exist concerning Istikhaarah. Many Muslims will pray, read the supplication of Istikhaarah, and run to bed expecting to see a dream showing them their future husband, what her favourite colour is, and some other weird fantasy. That is not the purpose of this Salaat.

The results of an Istikhaarah can take many forms. Basically, you go by your feelings, whether you now feel more favourable or not. Also, you may notice events have changed, either for or against you. You then follow the results of the Istikhaarah, if you don’t then it tantamounts to rejecting Allah’s guidance once you’ve asked for it. Also, you should firstly clear your mind, not have your mind already decided, and then afterwards follow the results willingly.

How Is Salaatul-Istikhaarah Performed?

It is a SunnahWay/method/saying or deed of the Prophet Muhammad (peace be upon him). that, if one needs to choose between permissible alternatives, one should pray two non-obligatory Raka’aat (Units of Prayer), even if they are of the Sunnah prayers or a prayer for entering the Masjid and recite therein whatever one wishes of the Qur’an after reciting SurahA chapter/section of the Qur’aan. al-Faatihah. Then one should praise Allah and sends Salutations to the Prophet (peace be upon him) and recite the following supplication mentioned in the HadeethProphetic Narration (Prophetic Narration).

The description of Salaat-ul-Istikhaarah was narrated by Jaabir ibn ‘Abd-Allah as-Salami (may Allah be pleased with him) who said,

The Messenger of Allah used to teach his companions to make istikhaarah in all things, just as he used to teach them surahs from the Qur’an.

He said, ‘If any one of you is concerned about a decision he has to make, then let him pray two rak’ahs of non-obligatory prayer, then say:


istikh1

‘O Allah, I seek Your guidance [in making a choice] by virtue of Your knowledge, and I seek ability by virtue of Your power, and I ask You of Your great bounty.

You have power, I have none. And You know, I know not. You are the Knower of hidden things.

O Allah, if in Your knowledge, this matter (then it should be mentioned by name) is good for me both in this world and in the Hereafter (or: in my religion, my livelihood and my affairs), then ordain it for me, make it easy for me, and bless it for me.

And if in Your knowledge it is bad for me and for my religion, my livelihood and my affairs (or: for me both in this world and the next), then turn me away from it, [and turn it away from me], and ordain for me the good wherever it may be and make me pleased with it.”

The Prophet added that then the person should mention his need. [Saheeh al-Bukhaari]

Therefore, Salat-ul-Istikhaarah is just two raka’aat of a non-obligatory prayer, prayed at anytime during the day, with a specific supplication at the end. While reciting the du’a, you should be thinking about the situation you want to be advised about with pure intentions and from the bottom of your heart. Then remember that Allaah says that whenever he guides a heart aright it can never be misguided. Afterwards, you should ‘have a good feeling’ about one of your options. Whatever option you feel is best right after you say the du’aa should be your decision. If you’re still in doubt, you can repeat.

Imaam an-Nawawi (may Allah have mercy on him) wrote, “after performing the Istikhaarah, a person must do what he is wholeheartedly inclined to do and feels good about doing and should not insist on doing what he had desired to do before making the Istikhaarah. If his feelings change, he should leave what he had intended to do, otherwise he is not completely leaving the choice to Allah, and would not be honest in seeking aid from Allah’s power and knowledge. Sincerity in seeking Allah’s choice, means that one should completely leave what he himself had desired or determined.”

Some people mistakenly wait for a dream to give a clear sign as to what decision to make, but this is not true, and often times it never really happens. In fact, dreams may lead you away from what Allah wants you to do, as Shaytaan might try to deceive you in your dreams.

Salaat-ul-Istikhaarah is for everybody. It’s a way for all of us to implore Allah for divine guidance and mercy. It is yet another invaluable resource from Allah to keep us on the straight and narrow Siraat-ul-Mustaqeem. The Prophet (peace be upon him) guidance regarding the Istikhaarah is for all Muslims, not just the scholars. Despite this gift, too many of us take the advice of our friends and parents, or accept the norms of our society and act without ever wondering what Allah wants us to do. We must stop looking towards the creation for guidance, we must begin to consult Allah, the Creator.

I cannot provide a better conclusion than advising that you must put your trust in Allah. You must have trust in His concern for us, and His ability to help us. Allah says,

Put your trust in Allâh, certainly, Allâh loves those who put their trust (in Him). [Surah Al-Imran Ayah 159]

April 14, 2011

Menjadi Islam dengan Berfikir

oleh Hafiz Zainuddin

Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat-saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang dirimu, di saat-saat aku seolah-olah mau memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian Rabbi, aku berharap cintaku padamu akan pulih kembali. (Ahmad Wahib-Catatan Harian)

Saya mengenali Ahmad Wahib di sebuah petang yang mendung semasa berada di kompleks PKNS Shah Alam sekitar tahun 2008. Ketika itu saya melalui sebuah gerai buku. Leret mata liar saya tertumpu pada sebuah rak putih yang penuh dengan buku yang pada kulitnya tercetak kata-kata yang memukau “Tuhan bukan tempat terlarang bagi pemikiran”. Lantas saya memegang buku tersebut, membelek. Konon-kononnya ghairah. Buku berjudul Pergolakan Pemikiran Islam : Catatan Harian Ahmad Wahid saya miliki tanpa berfikir lama..

Ahmad Wahib yang melabelkan dirinya “bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis, bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis, bukan komunis…bukan humanis” telah pergi meninggalkan kita selama-lamanya pada sebuah malam di bulan Mac 1973. Beliau telah dilanggar oleh sebuah motorsikal dihadapan pejabat majalah Tempo tempat dimana beliau bekerja sebagai calon wartawan. Buku setebal 355 mukasurat ini asalnya merupakan helaian-helaian catatan harian Ahmad Wahib yang ‘diselamatkan’ teman akrab beliau sejurus beliau meninggal dunia. Bukan seperti catatan-catatan “diari sorang lelaki ” yang lain.

Buku ini telah terbit buat pertama kalinya pada tahun 1981 di Indonesia oleh Pustaka LP3ES. Edisi Bahasa Malaysia pula ialah pada tahun 2007 terbitan MEGC dengan kerjasama Konrad Adenaur Stiftung. Secara umumnya, saya mentakrifkan buku ini sebagai rangkulan pengalaman dan kesimpulan panjang idea-idea liberalisasi. Catatan-catatan ini memuatkan pandangan peribadi Ahmad Wahib yang kritis dan sinis sepanjang pergulatan beliau dengan teman-teman jemaahnya, masyarakatnya, budayanya, agamanya, tuhannya malah hampir seluruh hidupnya.

Pemikiran Luar Kotak

Catatan dari Jogjakarta oleh HA. Mukti Ali pada 1981 mengakui dalam Lingkaran Diskusi, Ahmad Wahib sering menimbulkan pendapat-pendapat yang tidak biasa didengar orang dan kebanyakan hal yang ditulis oleh beliau membuatkan orang akan ‘berkerut dahi’. Pemikiran beliau ‘di luar kotak’ atau ‘di luar jendela’ apa adanya. Mukti Ali mengakui pendapat dan pertanyaan almarhum Ahmad Wahib ini amat menggoda dan mengesankan fikiran kita. Benar kata Wahib “Saya ingin menjadi Muslim yang baik dengan selalu bertanya.”

Buku ini telah dibahagikan kepada empat bahagian utama. Perkara-perkara yang disentuh antara lain usaha beliau menjawab masalah yang timbul dalam ruang beragama, politik dan kebudayaan Indonesia, bidang keilmuan dan kemahasiswaan dan yang terakhir sedikit sebanyak menyentuh peribadi beliau yang sentiasa gelisah.

Adakah ‘tuhan itu takut kepada akal yang tuhan ciptakan sendiri?’
“Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yang mengakui berTuhan tapi menolak berfikir secara bebas beerti menghina rasional kewujudan Tuhan.”- Ahmad Wahib

Pendapat almarhum Ahmad Wahib dalam soal agama dilihat sebagai pandangan yang tajam dan nakal. Beliau sering menyentuh soal yang dasar dan taboo justeru mengajak yang lain untuk berfikir. Kebebasan agama dilihat sebagai kebebasan berpendapat bukan untuk dibatasi. Yang mendasari untuk segala pendapat beliau, adakah ‘Tuhan itu takut kepada akal yang Tuhan ciptakan sendiri?’ Keberanian Wahib dalam melontarkan pendapat dan persoalan meletakkan beliau sebagai manusia jujur.

Catatan-catatan yang dihimpunkan dalam buku ini mempamerkan Wahib sebagai pemikir radikal penuh inpirasi dan provokatif. Soal ‘nilai baru dan lama’ diukur dengan pembaris waktu. Menurutnya lagi masyarakat Islam harus keluar dari kongkongan feqah.Bagi Wahib; pembinaan hukum dari al-Quran dan Sunnah melalui ijmak bukan lagi waktunya kerana individualisme semakin berleluasa. Wahib berpendapat bahawa hukum-hukum Islam itu berkembang apabila nilai-nilai dalam masyarakat itu berkembang yang pada beliau membawa erti hukum juga berubah.

Kekangan ‘eksklusivisme’ dalam Idea Pembaharuan Islam

Ahmad Wahib mahukan organisasi-organisasi Islam bersifat mendidik bukannya menghukum. Beliau menolak apa yang dipanggil “Ideologi Islam” kerana “Ideologi Islam” sama seperti ideologi-ideologi lain seperti sosialis, nasionalis maupun komunis. Pokok pangkalnya, idea Islam harus sentiasa berkembang selari dengan perkembangan umat, budaya dan bersifat universal.

Suatu hal yang menyedihkan apabila keberadaan beliau dalam HMI dipandang sebagai “jaringan golongan luar tertentu” dari Jawa Tengah yang dilabel sebagai heterogenitas yang keterlaluan. Sampai masanya, Wahib dan temannya Djohan meninggalkan HMI dengan meninggalkan kepilan ‘rasmi’ terakhir iaitu “Memorandum Pembaharuan dan Kekaderan”. Sifat rigid HMI dalam menerima dan menilai idea pembaharuan umat dilihat Wahib sebagai musuh kepada kebebasan berfikir dan bertentangan dengan Islam itu sendiri. Apatah lagi HMI masih kuat dengan pengaruh Masyumi yang dilihat cenderung menghukum dan bersifat formal.

Sarana Wahib dalam kehidupan peribadi beragama

Pada 18 November 1972 Ahmad Wahib telah menggariskan sebuah struktur umum dengan judul “Pembinaan Toleransi Beragama di Indonesia” berpokok pangkal dengan umat Islam Indonesia yang menetapkan beberapa poin utama iaitu mengenalpasti ‘sasaran toleransi’, mengenalpasti ‘sumber-sumber intoleransi’ dan ‘pembinaan toleransi beragama’. Seluruh dasar ini bertujuan mengarah kembali organisasi-organisasi agama agar merayakan perbezaan dan ‘menghormati hak pembinaan dan penerimaan rohani manusia yang bersifat peribadi’.

Kesenian, Kebudayaan, Intelektualisma dan kebekuan pemikiran umat

Selain itu Ahmad Wahib dilihat sangat berminat menyentuh berkenaan ketenteraan ABRI, demokrasi dan kaum intelektual Indonesia. Beliau banyak menyentuh dan memberi pendapat mengenai ‘kedudukan-posisi’ golongan intelektual ini sebelum dan selepas kemerdekaan, kedudukan kaum intelektual semasa dan pasca Soekarno, intelektual Muslim dan pertentangan yang timbul di antara golongan intelektual dan persekitaran lingkungan mereka.

Kebanyakan golongan intelek Muslim ini dilihat terikut dengan arus massa sehingga takut kehilangan pengikut. Musibahnya; umat Islam buta disebabkan kurang komunikasi yang mengakibatkan umat Islam menjadi terumbang-ambing, terlalu reaksioner dan dilihat streotaip. Untuk memperbaiki permasalahan yang dihadapi kaum intelektual Muslim ini; Wahib menyarankan agar mereka lebih banyak ‘hadir’ dalam banyak bidang dan meningkatkan “level of political culture” untuk membebaskan umat dari kelesuan dan kebekuan. Wahib cuba menyentuh sebanyak mungkin isu dan minat mendalamnya dalam agama, politik, kemasyarakatan maupun budaya. Beliau menjembatani antara kesenian dan sudut manusiawi.

Perjuangan dan Dakwah

Peribadi yang selalu gelisah dengan persoalan-persoalan dan kejujuran Ahmad Wahib dalam kritikan beliau terutama terhadap pemikiran golongan konservatif Islam jelas menunjukkan perjuangan beliau dalam membentuk gagasan-gagasan baharu yang bersifat rasional dan alami. Nama beliau lebih dikenali setelah meninggal dunia. Pemikiran beliau mencetus fenomena baharu dalam masyarakatnya. Walaupun penulis tidak menyamakan beliau dengan Djohan Effendy, Nurcholish Madjid maupun Abdulrahman Wahid; Apapun mereka antara orang yang merentas jalan liberalisasi dalam membudayakan ilmu dan agama. Pemergian Ahmad Wahib dalam pencariannya bukan noktah bagi anak-anak muda yang sehingga kini menjadikan catatan-cacatan beliau sebagai rujukan dalam meneruskan dakwah.

*Hafiz Zainuddin merupakan seorang penulis bebas

February 22, 2011

Sambutan Mauludur Rasul


Selasa - 15 Feb 2020 - Hari ini 10 tahun yang lalu, Qaryah Cherok Tokun Bawah telah mengadakan sambutan Majlis Sambutan Mauldur Rasul peringkat Qaryah Cherok Tokun Bawah secara besar-besarans bagi tahun kedua berturut-turut.

Seluruh anak qaryah daripada kalangan kanak-kanak, remaja, belia, wanita dan dewasa telah bersama-sama menjayakan perayaan Majlis Sambutan Mauludur Rasul pada tahun ini.


Majlis telah di mula dengan mengadakan  taklimat kepada peserta perarakan oleh Sdr Zulkifli Saad, Pengerusi JKKK Cherok Tokun merangkap Ahli Majlis Perbandaran Seberang Perai, pada jam 8.00 pagi.

Perarakan  bermula dari Padang Awam Jalan Kolam melalui Kampong Telok Bukit mengeliling kawasan kampong berakhir di Masjid Jamek Cherok Tokun Bawah.

Sermai 350 peserta mengambil bahagian yang terdiiri daripada 7 kumpulan

1. Murid-urid Madrasah Al Wataniah
2. Remaja Nurul Imam
3, Remaja Nyrul Ehsan
4. Belia PEWARIS Qaryah
5. Kumpulan Wanita Bijak Solat

6. Kumpulan Wanita dan
7. Kumpulan Dewasa


Setelah tiba di perkarangan masjid aktiviti yang diadakan adalah

1. pertandingan pidato yang berthemakan"Sayang Rasul, Ikut Sunnah" antaramurid-murid sekolah rendah dan menengah
2. persembahan nasyid Kanak-Kanak PASTI dan Remaja.
3. majlis marhaban.

Jamuan tengahari telah disediakan pleh pemuda PEWARIS Qaryah untuk semua yang hadir.

Semoga sambutan sebagini diteruskan pada tia-tiap tahun bagi menjalin perhubungan masyarakat.

September 20, 2010

HARI RAYA QARYAH

Cherok Tokun 19hb Sept 2010 - Sambutan Hari Raya Aidilfitri telah diadakan di perkarangan Masjid Jamek Cherok Tokun dengan dihadiri oleh seluruh anak qaryah.

Ini adalah kali kedua Maj lis Hari Raya Qaryah diadakan khusus untuk meraikan kalangan anak qaryah. Kali pertama majlis ini diadakan ialah pada Tahun 2009. Majlis tahun ini menampakkan kemeriahan yang lebih luar biasa dengan mengadakan beberapa acara khusus untuk warga qaryah.

Majlis dimula dengan penyampaian nasyid oleh anak-anak qaryah terdari daripada kelas Tadika KEMAS, muri-murid-murid Sekolah Agama KAFA dan kumpulan remaja dan belia.

Majlis dirasmikankan oleh YB Tuan Haji Salleh Man ADUN Permatang Pasir, merangkap Timbalan YDP Majlis Agama Islam Negeri Pulau Pinang. Daalam ucapan perasmin beliau mengingatkan supaya peranan masjid dipertingkatkan bagi mengembeling seluruh anggota masyarakat dan bukan hanya untuk mengadakan solat semata-mata.

Majlis ini juga telah meraikan warga istimewa yang beumur 75 tahun keatas yang telah bersama-sama membangunkan qaryah ini. Penyampaian cenderahati kepada warga istemewa telah disampaikan oleh YB Tuan Salleh Man.

Pengerusi Qaryah Tuan Haji Idrus Ibrahim dalam ucapan beliau meminta agar anak qaryah memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembangunan qaryah serta melahirkan penghargaan kepada PEWARIS Qaryah dan Lujnah Wanita di atas sokongan mereka.

Ceremah motivasi diadakan selepas majlis perasmian oleh Tuan Haji Abd Rahim Abd Rahman.

DS Anwar Ibrahim turut hadir menjamu selera dan berbual dengan warga istemewa dan PEWARIS Qaryah sebelum berangkat ke Penanti.

May 08, 2010

Bagaimana Mendirikan Siasah di Masjid.




Sebagai “ Rumah Allah ” , masjid merupakan institusi terpenting dalam pembinaan ummah yang bertamaddun. Malah penubuhan Negara Islam oleh Baginda saw. di Madinah al Munawwarah menyaksikan bagaimana masjid dinobat sebagai mercu peradaban dan kedaulatan yang dibina.

Pembinaan masjid di Quba’ , Wadi Ranuna’ [Tempat mula – mula Nabi saw. mendirikan solat jumaat di Madinah .( di Tengah – tengah Wadi Ranuna’ )Rujuk : Sirah an Nabawiyyah Li Ibni Hisyam .M/s 315 Juz. Pertama. Cetakan Dar Ibn Rejab . Mansourah] dan di Yathrib ( Madinatun Nabi ) menjadi batu asas pembinaan tamaddun Islam unggul berpaksikan kedaulatan syariat dan ummah yang bermartabat.

Ianya ( masjid ) tidak dibina semata – mata untuk mendirikan solat , tetapi juga sebagai nokhtah mula keagungan ummat. Dari situlah nabi saw. menggerakkan jentera kerajaan dan mengatur strategi membangunkan ummah .

Masjid : Iktibar dari Seerah an Nabawiyyah



Syeikh Dr. Musthafa as Sibae’i menyebut di dalam kitabnya as Seeratun Nabawiyyah : Durus wa I’bar :



“ Memang tidak dapat disangkal lagi , bahawa masjid membawa risalah kemasyarakatan dan kerohanian yang agung nilainya terhadap kehidupan ummat Islam . Masjid lah yang menyatukan saf – saf ummat Islam , menyucikan jiwa mereka , menghidupkan hati dan aqal mereka , menyelesaikan masaalah yang dihadapi oleh mereka dan akhirnya menampilkan kekuatan jua hubungan erat mereka .



Sesungguhnya telah terbukti bahawa sejarah masjid di dalam Islam , menjadi markaz bagi tentera Islam berangkat ke medan untuk menakluki muka bumi dengan hidayah Allah swt .



Dari masjid jua terpancarnya sinaran cahaya dan hidayah buat ummat Islam dan lainnya malah masjidlah juga berkembangnya peradaban Islam . Bukan kah Abu Bakar , Umar , Uthman , A’li , Khalid , Saad , Abu U’baidah dan tokoh – tokoh seumpama mereka yang terdiri daripada pemimpin – pemimpin agung dalam sejarah Islami merupakan anak -anak murid di Madrasah al Muhammadiyyah yang berpusat di Masjid an Nabawi .



Antara keistemewaan yang lain , masjid pada setiap minggu berkumandang kalimah al haq menerusi seruan khatib yang menentang kemungkaran , memperjuangkan syariat , menyeru kearah kebaikan , menginsafkan mereka yang lalai , menyeru kearah kesatuan, membasmi kezaliman dan memerangi perbuatan yang melampaui batas .



Sesungguhnya kita telah menyaksikan bagaimana dulunya masjid – masjid menjadi markaz – markaz yang menyemarakkan gerakan anak watan menentang penjajah Perancis . Berpangkalan di masjidlah , tokoh – tokoh jihad menetang penjajah dan menentang zionisme .



Apabila kita menyaksikan kepincangan masjid hari ini dari fungsi dan peranannya yang hebat , maka tiada lain melainkan kesalahan sebahagian khatib yang terdiri daripada khatib yang hanya bertugas memburu elaun atau jahil lagi leka .



Alangkah beruntungnya , jika dalam keadaan seperti ini , lahir segolongan pendakwah yang tegas membawa kebenaran , bangkitnya ulama yang memperjuangkan syariat Allah . Mereka ikhlas kerana Allah dan Rasulnya saw. , mereka menasihati pemimpin dan ummat Islam seluruhnya .



Mengembalikan masjid sebagai tempat kegiatan masyarakat , mendidik tokoh – tokoh dan melahirkan pejuang – pejuang , mengislahkan kefasadan , memerangi mungkar dan membentuk masyarakat berasaskan taqwa dan redha Allah swt.”



Rujuk : Seerah an Nabawiyyah : Durus wa I’bar


Oleh Dr. Musthafa Sibae’I . Muka surat 74 – 75


Cetakan ke 9 oleh al maktab al islami ( 1986 ) Dimasyq




Masjid Terbelenggu.



Realiti hari ini bertambah parah apabila melihat nasib masjid dan pengurusannya yang kian terabai . Lebih malang apabila wujudnya fenomena terancang untuk membelenggu masjid agar ia tidak berfungsi sebagai markaazul ummah .



Siapa lagi yang lebih bejad daripada mereka yang menghalang rumah Allah ( masjid ) agar tidak diimarahkan dengan ilmu dan zikrullah . Lebih parah apabila mereka “ sampai hati ” meruntuhkan rumah Allah yang pastinya dibina di atas tanah waqaf milik Allah swt. Firman Allah swt :



و من أظام ممن منع مساجد الله أن يذكر فيها اسمه و سعى في خرابها أولئك من كان لهم أن يدخلوها إلا خآئفين لهم في الدنيا خزي و لهم في الأخرة عذاب عظيم



“ Siapa lagi yang terlebih zalim daripada orang yang menghalang masjid – masjid Allah bahawa disebut didalamnya namaNya dan berusaha merobohkannya ? Mereka tidak layak memasukinya kecuali dengan rasa takut ( kepada Allah ) . Bagi mereka kehinaan di dunia dan bagi mereka azab yang sangat dahsyat di akhirat .”



Surah al Baqarah . Ayat : 114



Terlalu banyak masjid dalam Negara kita hari ini hanya dijadikan tempat solat dan lebih melucukan bagaimana terdapat masjid yang hanya berfungsi sebagai tempat kunjungan pelancung selain daripada solat berjamaah yang sangat kecil kuantitinya berbanding saiz masjid tersebut.



Keghairahan mendirikan masjid yang tidak seimbang dengan keghairahan mengurus dan mengimarahkannya meletakkan situasi ini sebagaimana yang pernah dibimbangi oleh Rasulullah saw. dalam hadis baginda yang diriwayatkan dari Saidina Ali Karramallahuwajhah :



يُوشِكُ أنْ يأتيَ علَى النَّاسِ زَمانٌ لاَ يَبْقَى مِنَ اْلإسلامِ إلاَّ اسْمُهُ وَلاَ يَبْقَى مِنَ اْلقُرْآنِ إلاَّ رَسْمُهُ مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ اْلهُدَى عُلَمَاؤهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ اْلفِتْنَةُ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ



رواه البيهقي



Sudah hampir suatu masa di mana tidak tinggal lagi daripada Islam itu kecuali hanya namanya dan tidak tinggal daripada al Quran itu kecuali hanya tulisannya . Masjid – masjid mereka tersergam indah tetapi ia kosong daripada hidayah . Ulama’ mereka adalah sejahat – jahat makhluk yang ada di bawah naungan langit . Dari mereka berpunca fitnah dan kepada mereka fitnah itu kembali .



Rujuk Kanzuul U’mal


M/surat 80, Juzuk 11


Cetakan Darul Kutub al I’lmiyyah Beirut



Pengalaman saya dikepung oleh polis yang lengkap bersama anjing , menyerbu masuk ke kawasan laman Masjid Peramu Kuantan sementara waktu itu saya sedang menyampaikan ceramah Maulidur Rasul saw , cukup menggambarkan bagaimana masjid dibelenggu .



Perlantikan ahli jawatan kuasa masjid dikalangan mereka yang tidak pernah menjejak kaki ke masjid semata – mata tidak mahu masjid itu diimarahkan dengan majlis ilmu antara bukti bahawa pembelengguan masjid sangat ketara .



Menghantar SB [Antara contohnya sebagaimana yang berlaku kepada Surau al Muhajirin Bandar Muadzam Shah. Kelihatan SB sering memantau aktiviti di surau berkenaan dan saya sendiri selaku salah seorang tenaga pengajar di surau tersebut pernah diadu ke Pejabat Agama kononnya saya mengajar ajaran salah] untuk memantau aktiviti masjid atau surau bukan sahaja menakut – nakutkan masyarakat untuk menghidupkan aktiviti masjid dan surau tetapi juga bermaksud untuk memberi tekanan kepada penceramah dan guru agama yang mengajar agar tidak menyentuh soal penyelewengan dan mungkar yang berlaku dalam Negara.


Sedang kelab – kelab malam dan pusat – pusat hiburan yang menjadi tempat subur untuk bercambahnya maksiat dan jenayah tidak dilayan sedemikian rupa .



Pekeliling yang pernah dihantar kepada surau dan masjid di Lembang Klang agar tidak mengadakan tazkirah di bulan Ramadhan juga mempunyai maksud yang sama untuk mengekalkan pembelengguan tersebut.



Arahan agar khatib hanya dibenarkan membaca teks khutbah yang dikeluarkan oleh Jabatan Agama meskipun khatib tersebut seorang yang diiktiraf ilmunya oleh universiti yang mu’taraf turut dilihat sebagai usaha menyempitkan fungsi surau dan masjid.



Sudahlah ruang dan peluang untuk bercakap Islam amat terhad , tiba – tiba masjid dan surau yang dianggap ruang yang paling kondusif untuk berbicara perkara agama turut dikekang , maka dimana lagi Islam ini boleh dijelaskan secara bebas dalam Negara ini ?



Pengurusan Masjid.



Selayaknya masjid diurus selia secara professional dan jujur bagi meletakkannya sebagai institusi penting dan suci dalam masyarakat .



Sangat malang apabila masjid bagaikan bangunan usang yang terbiar tanpa dipedulikan penyelenggaraannya sebagai sebuah tempat ibadah. Masing – masing melepaskan tanggungjawab kepada pihak yang lain dan akhirnya semua berlepas harap .



Sesetengahnya sangat berbangga dengan jumlah kutipan derma mingguan yang meningkat saban minggu dan dipaparkan di papan putih masjid berkenaan , sedang masjid tersebut sangat tidak terurus dengan sistem pengaliran air di kolam wudhu’ , kebersihan tandas yang sangat rendah dan menyedihkan , sistem pembesar suara yang uzur serta lemah dan pelbagai kelemahan yang ketara .



Kenapa tidak wang yang begitu banyak hasil sumbangan orang ramai dimanafaat sepenuhnya untuk meletakkan masjid dan surau sebagai sebuah institusi yang hebat dan menarik . Apa yang paling penting ialah masjid mesti menjadi tempat yang paling selesa dan tenang untuk ummat mengabdikan diri kepada Allah swt.



Imej tandas masjid sebagai tandas yang paling kotor sepatutnya tidak kedengaran lagi . Bukankah kebersihan adalah sebahagian daripada tanggungjawab utama setiap individu muslim ? Bukan sahaja bermaksud supaya masjid tidak dipandang rendah oleh masyarakat umum, tetapi juga untuk mencari redha Ilahi .



Peranan dan Fungsi Masjid.



Selayaknya masjid diimarahkan . Sebagaimana tiada nilai masjid yang tidak diurus , begitulah tiada erti dan gunanya masjid yang diperbesar dan diperbanyakkan tetapi sepi tanpa aktiviti .Masjid juga mestilah dilihat sebagai mesra remaja dan mesra ummah seluruhnya.



Masjid tidak sepatutnya menghadkan aktiviti kepada solat berjamaah semata – mata , demikian juga tazkirah dan kupasan ilmu yang hambar dan tidak membawa ahli jamaahnya wujud dalam cabaran zaman mereka yang sebenarnya.



Sebaliknya masjid mestilah aktif menganjurkan pelbagai aktiviti yang mendekatkan masjid kepada mereka yang cuba menjauhkan dirinya daripada masjid. Malah aktiviti kemasyarakatan dan budaya mereka yang tidak bercanggah dengan Islam amatlah baik didekatkan kepada masjid .

Biarpun asalnya aktiviti itu bukan berbentuk ibadah namun apabila ia bertolak dari masjid dan surau , kita mengharapkan ia menjadi satu bentuk ibadah yang diredhai oleh Allah swt .



Tuisyen akademik juga boleh diadakan di masjid atau surau agar tidak sahaja ustaz dan pak lebai menguasai ruang legar masjid tersebut tetapi juga guru akademik dan murid – muridnya berhak ber“mesra” dengan masjid .



Saya berkeyakinan , jika semua pihak mengambil ruang dan bahagian mem“peranan”kan masjid seperti kaum ibu dengan aktiviti mereka , pelajar dengan aktiviti mereka dan ajk masjid dengan aktiviti mereka , masjid akan dilihat makmur , meriah , ceria dan menarik .



Pengalaman saya di Damsyik dan Tanta dapat melihat dari dekat bagaimana di sana terdapat masjid yang dilengkapi dengan maktabah ( perpustakaan ) untuk masyarakat merujuk pelbagai sumber ilmu dan Klinik yang beroperasi di masjid sepanjang hari dengan hanya ditutup pada waktu solat.



Keadaan itu tidak lagi meletakkan masjid dan surau sepi bersendirian dan akhirnya menjadi sasaran mat gian dan kaki lepak beroperasi dan mencuri . Malang ada masjid yang kehilangan besi keranda , tongkat khutbah dan set P.A system. Jawab mudahnya , kerana masjid tersebut sepi ditinggalkan oleh imam dan makmumnya.



Masjid sepatutnya tidak perlu berkunci dan berjaga , sudah cukup amalan iktikaf dan mengimarahkan masjid menjadikan masjid kawasan atau zon paling selamat dalam dunia .



Kalaupun keadaan memaksa demi memelihara barangan milik masjid daripada dicuri oleh penjenayah , maka saya syorkan agar sediakan kawasan berkunci untuk menyimpan barangan berharga milik masjid sementara ruang masjid terbuka untuk aktiviti umum mengabdikan diri kepada Allah swt.



Ataupun , sediakan ruangan khas yang tidak berkunci ( sebahagian dari masjid ) tersebut agar tidak menghalang aktiviti ummah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. terutama buat musafir lalu .



Pendekkata , sebagaimana pengurusan hotel ada kursus yang disediakan untuk meningkatkan prestasi pengurusan maka saya kira pengurusan masjid juga min baabil aula [ terlebih layak ] patut diadakan kursus untuk tujuan meningkatkan kesedaran dan keinsafan dikalangan ummah terhadap pengurusan masjid dan surau .



Berpolitik di Masjid.



Politik sebahagian daripada Islam yang telah dibawa oleh Nabi saw malah perjuangan baginda saw diwarnai oleh gerakkerja politik sehingga tertegaknya Negara Islam pertama di Madinah al Munawwarah . Pengurusan , pentadbiran dan pemerintahan Nabi saw juga berpusat di Masjid an Nabawi .



Masjid an Nabawi turut menjadi tempat Nabi saw mengajar ilmu politik kepada ummah agar mereka kekal menjadi ummah yang bertanggungjawab memelihara dan mentadbir negeri atau negara berdasarkan agama yang telah diwahyukan oleh Allah swt . sehingga lahir sebuah negera yang aman , maju , sejahtera dan mendapat keampunan daripada Allah swt .



Memisahkan Masjid daripada politik dan aktivitinya yang benar dan tulen mengikut ajaran Islam adalah satu percubaan untuk mensekularkan ummah dengan menjarakkan urusan politik daripada agama .



Tindakan memisahkan politik daripada masjid hanya menjadikan politik itu kotor kerana terpisah dari ruh agama . Sebetulnya inilah yang sangat diinginkan oleh ahli – ahli politik sekular agar politik mereka bebas dari pengaruh masjid yang mengingatkan mereka kepada syurga dan neraka serta dosa dan pahala . Tentunya politikus duniawi ini akan rimas dan lemas apabila politik mereka diganggu oleh ulama’ atau imam yang mengingatkan tentang dosa pahala dalam berpolitik lantaran politik mereka adalah membujur lalu melintang patah , dihulur aku sapu yang hilang aku tak kisah. Segala elemen negatif seperti politik kebencian dan fitnah yang terbentuk dari aksi politik duniawi dan sekular sewajar dihapuskan kerana politik sedemikian tidak memberi keuntungan kepada ummah dan negara . Justeru itu , masjid bagaikan “washing machine” untuk membersihkan politik dari segala elemen negatif tersebut .



Bawalah politik masuk ke dalam masjid nescaya politik itu akan menjadi tenang , murni dan terhindar dari sebarang fitnah dan kebencian sesama ummah. Bukankah masjid adalah tempat suci yang dilarang keras pengunjung membuat bising tidak tentu pasal apalagi melemparkan fitnah dan menghasut masyarakat agar saling benci membenci kerana masjid adalah simbol perpaduan dan kasih sayang .



Bertolak dari masjidlah , politik ummat Islam harus digerakkan untuk memerangi kemungkaran politik, kebathilan politik , kemaksiatan politik , penyelewengan politik dan penyalahgunaan kuasa politik kerana segala macam kemungkaran , kemaksiatan dan kebathilan itu adalah dosa dan noda yang mesti disucikan sebelum mati bettemu Allah swt.



Inilah bezanya politik Islam yang membawa ke akhirat . Berbanding kitaran politik sekular yang hanya berlegar di kaki dunia dan tidak pun sekali – kali mampu melepasi sempadannya.

oleh :Nasrudin Hassan at-Tantawi

February 21, 2010

Celebrate the Prophet's birthday

Celebrate the Prophet's birthday
Posted on Sunday, February 21 @ 04:00:00 PST 
Dilulus untuk paparan oleh CyberSniper

TazkirahOleh: shazzan

"
We all know that the Companions of the Prophet, peace and blessings be upon him, did not celebrate the Prophet's birthday, Hijrah or the Battle of Badr, because they witnessed such events during the lifetime of the Prophet who always remained in their hearts and minds.

Sa`d Ibn Abi Waqqaas said that they were keen on telling their children the stories of the Prophet's battles just as they were keen on teaching them the Qur'an. Therefore, they used to remind their children of what happened during the Prophet's lifetime so they did not need to hold such celebrations.

However, the following generations began to forget such a glorious history and its significance. So such celebrations were held as a means of reviving great events and the values that we can learn from them.

Unfortunately, such celebrations include some innovations when they should actually be made to remind people of the Prophet's life and his call. Actually, celebrating the Prophet's birthday means celebrating the birth of Islam. Such an occasion is meant to remind people of how the Prophet lived.

Allah Almighty says: "Verily in the Messenger of Allah ye have a good example for him who looketh unto Allah and the last Day, and remembereth Allah much." (Al-Ahzab: 21)þ

By celebrating the Prophet's Hijrah, we should teach them values such as sacrifice, the sacrifice of the Companions, the sacrifice of `Ali who slept in the Prophet's place on the night of the Hijrah, the sacrifice of Asmaa' as she ascended the Mountain of Thawr. We should teach them to plan the way the Prophet planned for his Hijrah, and how to trust in Allah as the Prophet did when Abu Bakr told him: "We could be seen so easily, the Prophet replied saying: "O Abu Bakr! What do you think of two when Allah is their third?" "Have no fear, for Allah is with us." (At-Tawbah: 40)

We need all these lessons and such celebrations are a revival of these lessons and values. I think that these celebrations, if done in the proper way, will serve a great purpose, getting Muslims closer to the teachings of Islam and to the Prophet's Sunnah and life.

As for celebrating `Ashooraa', the Prophet, peace and blessings be upon him, celebrated this day by fasting only. He asked the Jews why they fasted on that day and they told him that it was the day that Allah saved Moses and the people of Israel. The Prophet replied saying: "We have more of a right to Moses than you." So he fasted on that day and ordered the people to fast on that day. He also said near the end of his life: "By Allah, if I lived longer I would fast on the 9th of Muharram." That is, that he would fast on the 9th and the 10th in order to be different from the Jews who fast on the 10th only. However, some of the Sunnis celebrate `Ashura as if it were a feast. The Shi`ah consider it a day of sadness and mourning, but all such things are innovations and are completely un-Islamic.

As for the second part of the question, the exact date of the Prophet's birth is disputed , but it is most likely to be on Monday, 9th Rabee` Al-Awwal (20th or 22nd of April, 571 AC), the same year in which the invasion of the Elephants took place against the Ka`bah. And he, peace and blessings be upon him, passed away on Monday 12, Rabee` Al-Awwal in the eleventh year of Hijrah (8 June 632 AC.)

Allah Almighty knows best.

Sheikh Yusuf Al-Qaradawi

October 14, 2009

Sambutan Hari Raya

Qaryah Cherok Tokun telah mengadakan Sambutan Hari Raya Idilfitri & Bicara Ilmu anjuran Kementerian Luar Bandar & Wilayan dan kerjasama RISDA Pulau Pinang, pada 11hb Oktober di Masjid Cherok Tokun. 

Perayaan Majlis Sambutan Hari Raya  diadakan di qaryah ini buat kali pertama, dan ianya mendapat sambutan yang menggalakkan dengan sokongan padu  Pemuda dan Wanita serta seluruh anak qaryah.

Majlis dimulakan dengan perarakan murid-murid dari sekolah agama Idtihad Al Wathaniah Jalan Kolan ke Masjid Cherok Tokun diikuti dengan Program Khatam Al-Quraan oleh 22 orang murid-murid..

Seramai 220 murid sekolah agama  telah hadir di dalam perarakan tersebut bersama di dalam majlis khatam al-quraan dan setiap murid diberi sumbangan peralatan sekolah dan subangan wang hari raya oleh qaryah dan sumbangan khas kepada murid-murid yang telah khatam al-quraan.

Guru Besar Sekolah Agama Ijtihad Alwaltaniah, Puan Zurina dalam ucapan beliau, merayu kepada ibubapa untuk mengambil perahatian yang lebih terhadap pendidikan agama anak-anak dan  bersedia untuk memperutukkan masa dan  wang ringgit bagi membolehkan anak-anak maju di dalam bidang agama. Sokongan ibu bapa amat-amat diperlukan untuk meningkat pelajaran dan pembelajaran murid-murid agar sekolah agama ini terus maju dan memberi menafaat kepada anak-anak qaryah.

Tuan Pengerusi Qaryah, Haji Idrus Ibrahim melahirkan rasa syukor di atas sokongan padu anak qaryah khususnya pemuda dan pemudi bagi menjayakan Majlis Sambutan Hari Raya yang julung kali diadakan di Cherok Tokun. Sokongan yang diberikan oleh pemuda dan wanita dalam menjayakan program Majlis Hari Raya memeberi keyakinan kepada beliau bahawa qaryah Cherok Tokun dapat bergerak maju menyongsong perubahan masa menghadapi zaman globalisasi. Beliau berharap pemuda dan pemudi memainkan peranan yang lebih aktif untuk mengambil alih peranan memimpin  qaryah.

 
Majlis telah dirasmikan oleh Ustas Zolkifli Ramli penyelia KAFA, Pejabat Agama Daerah Seberai Perai Tengah.

Pada sessi tengahari ceramah motivasi bertajuk Mengasah Bakat Diri & Akal Budi telah disampaikan oleh Sdr Ramli Bakar dari Merbok, Kedah.

Semoga program ini akan berterusan pada tahun-tahun akan datang.