August 07, 2012

18 Ramadhan

18 Ramadhan 21 H
Pada hari ini Khalid bin Walid Radiallahu Anhu salah seorang sahabat terkemuka yang terkenal dengan keberaniannya dan panglima perang dalam berbagai peperangan baik sebelum Islam atau sesudahnya meninggal dunia.

Beliau masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah pada tahun 7 H. Saidina Umar bin Khatab RA memimpin solat jenazah Beliau lalu dimakamkan di Homs, Syria dan ada pula ya
ng mengatakan di Madinah.

Sumber :
Kitab “Ramadhaniyat” karangan Muhammad Sa’id Mursy dan Qosim Abdullah

July 05, 2012

Kenikmatan Beribadah

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du.

Di antara anugrah Allah kepada hambaNya adalah kelezatan dalam beribadah, yang aku maksudkan adalah apa yang dirasakan oleh seorang muslim dari ketenangan jiwa dan kebahagian kalbu, lapang dada dalam menjalankan beribadah, dan kelezatan yang dirasakan oleh seorang hamba akan berbeda-beda tergantung pada kekuatan dan kelemahan iman seseorang. Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. QS. Al-Nahl: 97

Seyogyanya bagi seorang muslim untuk berusaha semaksimal mungkian agar dirinya bisa merasakan kelezatan dalam beribadah. Nabi saw bersabda kepada Bilal: “Bangkitlah wahai Bilal dan tenangkanlah kita dengan shalat”, karena beliau merasakan kelezatan dan kebahagian hati yang tinggi padanya, dan Nabi saw memanjangkan shalat malam sebagai bukti atas yang dirasakannya berupa ketenangan dan kebahagiaan bermunajat kepada Allah. Dan kebenaran perkara ini telah disebutkan di dalam firman Allah swt. Allah swt berfirman:

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”, QS. Al-Baqarah: 45

Dan Mu’adz bin Jabal menangis pada saat kematiannya dan ditanyakan kepadanya perihal tersebut, dia menjawab: Aku hanya menangis karena akan meninggalkan kehausan saat meninggalkan kelezatan makanan dan berkumpul besama para ulama pada halaqah-halaqah zikir.

Ibnu Taimiyah rahimhullah berkata: Sesungguhnya di dalam dunia ini ada surga di mana jika seseorang tidak memasukinya maka dia tidak akan bisa memasuki surga akherat”.[1]

Seorang ulama salaf berkata: Orang-orang miskin penghuni dunia adalah orang yang keluar meninggalkan dunia sementara dia tidak merasakan kelezatan apa yang ada padanya, dikatakan kepadanya: Apakah yang paling lezat di dunia ini?. Dia menjawab: Mencintai Allah dan mengenalNya serta berdzikir kepadaNya atau yang serupa dengannya”.[2]

Dan Nabi saw menjelaskan bahwa ketaatan itu memiliki kelezatan yang bisa dirasakan oleh orang yang beriman.

Dari Anas ra bahwa Nabi saw bersabda: Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang maka dia akan merasakan manisnya keimanan: Allah dan RasulNya lebih dicintainya dari selain keduanya, tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah dan benci kembali kepada keburukan sama seperti kebencian dirinya dicapakkan ke dalam api neraka”.[3]

Di dalam sebuah riwayat disebutkan: Orang yang dicampakkan ke dalam api lebih disukainya daripada kembali kepada Yahudi atau Nashrani”.[4]

Di antara cara meraih kelezatan di dalam beribadah adalah:

1. Berusaha semaksimal mungkin untuk selalu taat kepada Allah sehingga dia terbiasa dan senang dengannya. Terkadang jiwa ini menjauh pada permulaan langkah mengawali usaha namun jika dia tetap telaten mengencangkan lengan bajunya, dan dia memiliki keinginan yang tinggi maka dia insyallah akan mendapatkannya. Maka urusan ini menuntut kesabaran dan kekuatan menanggung derita. Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. QS. Ali Imron: 200.

Allah swt berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. QS. Thaha: 132

Dari Fudholah bin Ubaidillah ra bahwa Nabi saw bersabda: Mujahid yang sebenarnya adalah orang yang berjihad melan hawa nafsunya karena Allah”.[5]

Seorang ulama salaf berkata: Aku senantiasa mengarahkan jiwaku agar beribadah kepada Allah padahal dia menangis dan mengeluh, sehingga aku tetap mengarahkannya sementara dia telah tersenyum (menikmati ibadah).

Ibnu R ajab berkata: Ketahuilah bahwa jiwamu itu bagai tungganganmu, jika dia mengetahui dirimu sedang bersemangat maka diapun bersemangat dan jika dia mengetahui bahwa dirimu sedang merasakan kemalasan maka dia menuntut darimu dan meminta bagian istirahat memenuhi syahwat”.[6]

Seorang penyair berkata:

Aku akan menundukkan kesulitan dengan mudah atau asaku tercapai

Sebab tidaklah angan-angan itu tunduk kecuali kepada orang yang sabar

Kedua: Menjauhi dosa baik yang kecil atau besar. Sesungguhnya kemaksiatan adalah dinding yang menghalangi seseorang merasakan kelezatan beribadah, karena dia melahirkan kekerasan hati, kekasaran dan kegersangan jiwa. Sebagian ulama salaf berkata: Allah tidak menghantam seseorang dengan siksa yang lebih besar dari pada hati yang kasar”.

Ibnul Qoyyim rahimullah berakata: Setiap kali dosa-dosa menumpuk maka kegelisahan akan meningkat, dan kehidupan yang paling pahit adalah kehidupan orang yang dihantui rasa gelisah dan takut dan hidup yang paling indah adalah kehidupan orang yang tenang, seandainya orang yang berakal melihat dan membandingkan kelezatan bermaksiat, dan apa-apa yang diakibatkannya dari rasa takut dan gelisah, maka di sanalah dia menyadari keburukan keadaannya dan ketertipuannya, yaitu pada saat seseorang telah menggadai ketanangan kemanan dan kemanisan beribadah dengan kegelisahan maksiat dan apa-apa yang dilahirkannya dari sifat rasa takut dan bahaya yang diakibatkannya”.[7]

Syaikhul Islam rahimhullah berkata: Jika engkau tidak mendapatkan suatu pekerjaan tidak mendatangkan ketenangan di dalam hatimu dan kelapangan bagi dadamu maka hendaklah engkau mewaspadainya, sebab Allah Ta’ala adalah Tuhan Yang Maha Bersyukur, yaitu Dia pasti memberikan balasan bagi amal hambaNya yang telah dikerjakannya di dunia memberikan rasa lezat di dalam hatinya, kekuatan dan kelapangan serta kesenangan dan jika dia tidak mendapatkan hal tersebut berarti amal itu telah bercampur dengan sesuatu yang lain”.[8]

Supyan ATsauri berkata: Aku tercegah mengerjakan bangun malam akibat suatu dosa yang pernah aku lakukan”.[9]

Wuhaib bin Al-Ward ditanya: kapankah seseorang kehilangan kelezatan beribadah?. Apabila dia terjerembab dalam kemaksiatan atau setelah dia selesai menjalankannya?. Dia menjawab: Seseorang akan kehilangan lezatnya beribadah pada saat dia ingin melakukan maksiat.

Ketiga: Meninggalkan makanan, minuman dan pembicaran serta pandangan yang berlebihan, maka cukup bagi seorang muslim untuk memakan makanan dan meminum minuman yang bisa membantunya menunaikan ibadah dan amalnya, maka janganlah dia makan dan minum secara berlebihan. Allah swt berfirman:

وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“…makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. QS. Al-A’raf: 31

Dari Miqdad bin Ma’di Kari ra bahwa Nabi saw bersabda: Tidaklah seorang anak Adam mengisi sebuah bejana yang lebih buruk dari perutnya, maka cukup bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya, namun jika hal itu mesti dilakukan maka hendaklah dia mengisi sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya”.[10]

Seorang ulama salaf berkata: Ketenangan hati pada sedikitnya dosa dan ketenangan perut pada sedikitnya makanan dan ketenangan lisa pada sedikitnya berbicara. Dan aku mengakhiri dengan perakataan Ibnul Qoyyim rahimhullah di mana berkata: Janganlah engkau menyangka bahwa firman Allah yang mengatakan:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. QS. Al-Infithar: 13-14)) khusus terjadi pada hari kebangkitan semata, namun mereka mendapat kenikmatan pada tidak fase kehidupan dan mereka yang lain mendapat siksa neraka jahim pada tiga fase kehidupan, kelezatan dan kenikmatan apakah di dunia ini selain baiknya hati dan kelapangan dada, ma’rifat kepada Allah serta mencintaiNya dan beramal sesuai dengan apa yang dikehendakiNya, dan bukankah kehidupan yang sebenarnya itu kecuali kehidupan hati yang sehat? Allah swt telah memuji Nabi Ibrahim alaihis salam karena hatinya yang selamat. Allah swt berfirman:

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ إِذْ جَاء رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. QS. Al-Shoffat: 83-84

Allah menceritakan tentang hati di dalam firmanNya:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَإِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, QS. Al-Syu’ara’: 88-89

Dan hati yang selamat adalah hati yang selamat dari kesyirikan, rasa dengki, hasad, iri, pelit, sombong dan ambisi terhadap dunia dan jabatan. Dia selamat dari segala bencana yang menjauhkannya dari Allah, dan selamat dari segala syubhat yang bertenentangan dengan apa diberitakan olehNya, dan selamat dari syahwat yang melawan perintahNya, selamat dari segala keinginan yang menyaingi kehendakNya, selamat dari segala sesuatu yang memutusakannya dari Allah, hati yang selamat ini berada dalam surga yang disegerakan di dunia ini, mendapat kenikmatan di dalam alam Barzakh dan kenikmatan pada hari pembalasan”.[11]

Keempat: Hendaklah seorang hamba merasakan bahwa ibadah yang dilakukannya ini, baik shalat, puasa, haji dan shadaqah adalah sebagai waujud ketaatan dirinya kepada Allah dan guna mengharap keridhaan Allah, dan ibadah ini sebagai perbuatan yang disenangi oleh Allah dan diridhaiNya dan ibadah inilah yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah swt.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi hambaKu maka aku telah mengumumkan perang terhadapnya, dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub kepadaku dengan suatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah aku wajibkan baginya, dan hambaku senantisa beribadah kepadaku dengan ibadah-ibadah yang sunnah sehingga aku mencintainya, maka jika aku mencintainya maka aku menjadi pendengaran yang dipergunakannya untuk mendengar, menjadi pandangannya yang dipergunakannya untuk melihat, menjadi tangannya yang dipergunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dipergunakan untuk melangkah, jika dia meminta kepadaku niscaya aku mengasihinya dan jika meminta ampun kepadaKu niscaya Aku akan mengampuninya dan jika dia berlindung denganKu niscaya Aku pasti melindunginya, dan tidaklah aku pernah ragu melakukan sesuatu seperti keraguan diriku mengambil nyawa seorang yang beriman, dia membenci kematian dan Aku tidak suka berbuat buruk kepadanya”.[12]

Kelima: Hendaklah seorang hamba menyadari bahwa semua ibadah yang dilakukannya ini tidak sia-sia dan tidak akan menghilang, sebagaimana punahnya harta duniawi, baik harta dan jabatan serta kelezatannya, bahkan seorang hamba akan merasakan kelezatannya bahkan itulah yang paling dibutuhkannya, bahkan juga dia akan mendapatkan buahnya di dunia selain dari apa yang akan disimpankannya baginya oleh Allah di akherat dan itu adalah balasan yang paling mulia dan besar. Maka barangsiapa yang menyadarinya niscya dia tidak akan menghiraukan jika gagal meraih dunia dan merasa senang dengan ibadah yang telah dirasakan manisnya ini. Allah swt berfirman:

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا

Dan barang siapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. QS. Thaha: 112

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib ra bahwa Nabi saw bersabda: Orang yang akan merasakan ledzatnya keimanan adalah orang yang rela Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Rasul utusan Allah”.[13]

Di dalam Ashahihaini dari hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang berinfaq dengan dua pasang di jalan Allah maka dia akan diseur dari pintu surga: Wahai hamba Allah ini adalah lebih baik, maka barangsiapa yang termsuk orang yang ahli shalat maka dia akan dipanggil dari pintu shalat, dan barangsiapa yang termasuk ahli jihad maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu jihad, serta barangsiapa yang termasuk ahli puasa maka dia akan diseur dari pintu Al-Rayyan, dan barangsiapa yang termasuk ahli shadaqah maka dia akan dipanggil dari pintu shadaqah”.[14]
by Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi


[1] Al-Wabilus Shayyib minal kalimit Thayyib, halaman: 81
[2] Al-Wabilus Shayyib minal kalimit Thayyib, halaman: 82
[3] Shahih Bukhari 4/284 no: 6941 dan Muslim: 1/66 no:43
[4] Shahih Muslim: 1/67 no: 43
[5] Bagian dari hadits di dalam kitab sunan Tirmidzi: 4/165 no: 1621
[6] Disadur dari kitab: Ladzdzatul Ibadah: halaman: 12
[7] Al-Da’ Wa dawa’: halaman: 104
[8] Tahdzib Madarijus salikin: halaman: 312
[9] Ladzdzatul Ibadah: hal: 18
[10] Sunan Turmudzi: 4/590 no: 2380 dan dia berkata hadits hasan shahih
[11] Al-Da’u Wa Dawa’, halaman: 165-166
[12] Bukhari: 6502
[13] Muslim: 24
[14] Shahih Bukhari : 1897 dan Muslim: 1027

June 10, 2012

Isu Berhubung Perkahwinan Dgn Ahli Kitab

Pada masa ini dihalalkan bagi kamu (memakan makanan) yang lazat-lazat serta baik-baik. Dan makanan (sembelihan) orang-orang yang diberikan Kitab itu adalah halal bagi kamu dan makanan (sembelihan) kamu adalah halal bagi mereka (tidak salah kamu memberi makan kepada mereka) dan (dihalalkan kamu berkahwin) dengan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatannya di antara perempuan-perempuan yang beriman, dan juga perempuan-perempuan yang menjaga kehormatannya dari kalangan orang-orang yang diberikan Kitab dahulu daripada kamu apabila kamu beri mereka mas kahwinnya, sedang kamu (dengan cara yang demikian), bernikah bukan berzina dan bukan pula kamu mengambil mereka menjadi perempuan-perempuan simpanan dan sesiapa yang ingkar (akan syariat Islam) sesudah dia beriman, maka sesungguhnya gugurlah amalnya (yang baik) dan adalah dia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi. [al-Maidah : 5]

Ok, di dalam ayat di atas, ada 2 poin utama berkait isu KAHWIN dengan ahli Kitab.


1. Halal Lelaki Muslim kahwin dgn perempuan Ahli Kitab yang baik-baik.

2. HARAM bagi sesiapa yang “engkar” dengan “menafikan” hukum tersebut.

==================


Boleh Kahwin Perempuan Ahli Kitab


Pertama sekali, kita kena ingat, AQ adalah relevan dan sesuai sehingga ke akhir zaman. Selagi tidak ada ayat nas yang menasakhkan sesuatu nas yang lain, tidak ada sesiapa pun yang berhak kata sesuatu HUKUM itu sudah tidak relevan. Begitu halnya dengan isu ini. Ayat 5 yang ditulis di atas tidak pernah dinasakhkan (dibatalkan), maka ia masih VALID.


Maka : Hukum Kahwin adalah BOLEH


================


Ibnu Umar ?


Telah disebutkan di atas, bahawa tercatat dalam Fiqh Aqalliyat – Dr Yusuf AQ bahawa antara pendapat yang mengatakan bahawa Ahli Kitab sudah tidak wujud adalah dari pendapat Syiah Imamiyah dan Ibnu Umar.


Syiah kita dah tolak.


Manakala Ibnu Umar, bukanlah sebenarnya dia mengatakan tidak wujud lagi Ahli Kitab. Tetapi lebih kepada beliau tidak bersetuju dengan KAHWIN AHLI KITAB di kalangan umat ISLAM. Hal ini ada disebut dalam Feqh Sunnah – Syed Sabiq sendiri.


Bila ditanya kepada Ibnu Umar tentang laki-laki Muslim kahwin dengan perempuan Yahudi dan Kristian, maka jawabnya :


“Allah telah mengharamkan orang-orang Mukmin daripada kahwin degan perempuan musyrik. Sedangkan menurut saya, tidak ada perbuatan musyrik yang lebih besar daripada perempuan yang mengatakan Isa sebagai Tuhannya atau salah seorang dari Tuhannya. (Trinity)”


Benar, dalam ayat 221: al-Baqarah sudah pun dijelaskan oleh Allah tentang haramnya berkahwin dengan wanita MUSYRIK.


Tapi, telah dijelaskan dgn teliti di atas, bahawa perempuan Musyrik dan Ahli Kitab ini sebenarnya adalah 2 perkara berbeza, dan ini bukan saya yang kata, tetapi AQ sndiri iaitu pada ayat 1: al-Bayyinah :


“Orang-orang yang kafir di ANTARA Ahli Kitab (Yahudi dan Kristian) dan orang-orang musyrik, tiadalah mahu meninggalkan agamanya, sehingga sampai kepada mereka keterangan”


Pada ayat tersebut jelas bahawa orang Musyrik bukanlah Ahli Kitab, dan Ahli Kitab juga bukanlah orang Musyrik walaupun pada hakikatnya mereka mensyirikkan ALLAH !


Dari Qurthubi, Nuhas berkata : Pendapat ini (yakni pendapat Ibnu Umar) menyimpang dari pendapat kelompok majoriti yang telah dijadikan hujah. Sebab yang berpendapat HALAL kahwin dengan perempuan Ahli Kitab itu terdiri dari ramai golongan sahabat dan tabi’en.


Antara golongan sahabat : Saidina Uthman b ‘Affan, Thalhah, Ibnu Abbas, Jabir dan Hudzaifah (r.anhum)


Antara tabi’en : Saib b Musayyab, Said b Jubair, al Hasan, Mujahid, Thawus, Ikrimah, Sya’biey, Dhahak dan ahli2 Feqh dari berbagai negeri Islam


Saidina Uthman ra sndiri pernah berkahwin dgn Nailah anak perempuan Farafishah Kalbiyah dari Bani Kalb yg beragama Kristian dan akhirnya perempuan itu masuk Islam setelah menjadi isterinya. Juga Hudzaifah yang berkahwin dengan perempuan Yahudi penduduk Madain.


Jabir ra pernah ditanya tentang kahwin dengan perempuan Yahudi dan Kristian. Jawabnya:


Kami pada waktu penaklukan negeri Syam telah berkahwin dengan golongan mereka itu bersama-sama dengan Saad b Abi Waqqas.


Malah terdapat juga riwayat mengatakan RasuluLlah SAW sndiri telah berkahwin dgn Mariah Qibtiah dari puak Qibti dan melahirkan seorang putera bernama Ibrahim, sedangkan Mariah kekal dlm agamanya.


Maka : Pendapat Ibnu Umar dalam hal ini LEMAH dan TIDAK KUAT serta bertentangan dengan sekalian majoriti para sahabat yang lain.


================


Antara Syarat2 Kahwin dgn Ahli Kitab


A) Muslim di pihak lelaki dan ahli kitab di pihak Kristian. Ini kerana orang lelaki lebih berpengaruh dan berkuasa serta kuat berbanding golongna perempuan. Jika lelaki yang beragama Kristian dan isterinya yang beragama Islam maka tak sah perkahwinan tersebut.


B) Anak-anak yang lahir hasil perkahwinan tersebut hendaklah beragama Islam


C) Prof Dr Hamka pula mensyaratkan lelaki mestilah beriman. Ini kerana dia bakal berhadapan dengan mentua dan ipar-ipar yang beragama kristian.


D) Dalam keadaan tertentu pihak berkuasa boleh menegah perkahwinan atas dasar kepentingan agama dan negara. Contohnya jika di suatu kawasan perempuan Kristian ramai yang cantik dan perempun Islam kurang cantik. Jadi ramai lelaki Islam ingin mengahwini perempuan Kristian, ini akan menyebabkan wanita Islam tak ada jodoh dan menjadi andartu.


------------------------


Dlm sebuah keputusan muzakarah Majlis fatwa kebangsaan Mei 1980:


1. Nikah orang islam dgn perempuan kitabiyyah (bukan asli) adalah tidak sah mengikut mazhab syafie


2. pernikahan seperti itu (pernikahan orang islam dgn perempuan kitabiyyah bukan asli) yang telah dilakukan pada masa lalu bolehlah disahkan mengikut sesetengah pendapat ulamak dengan syarat jika nikah itu diakadkan mengikut islam dan keluarga itu hendaklah hidup secara islam termasuk pendidikan anak2, jika tidak demikian maka perkahwinan itu hendaklah dibatalkan.



===================


Beberapa Huraian Tambahan


Perempuan yang “baik2” (Muhsonat)


Sungguh pun Islam membernakan kahwin dgn perempuan Ahli Kitab, tetapi hakikatnya tidaklah begitu remeh syariat menangani isu ini sebagaimana mudahnya isu Sembelihan mereka. Disyaratkan dgn jelas pada ayat AQ ialah permpuan MUHSONAT yakni perempuan yang baik-baik sahaja yang layak dikahwini.


MUHSONAT ertinya : Wanita-wanita yang terpelihara maruah dan juga kemaluannya. Termasuk juga wanita-wanita yang pandai menjaga diri dan taat kepada agama mereka.


Oleh itu , TIDAK BOLEH MENIKAHI para penyanyi, para pelakon, model-model dan apatah lagi para pelacur yang beragama Yahudi ataupun Kristian kerana mereka itu BUKANLAH MUHSONAT.



Hikmah


Pertama sekali tidak lain dan tidak bukan, adalah untuk mengembangkan syiar Islam itu sendiri. Sesungguhnya perempuan Ahli Kitab dan musyrikin lain adalah berbeza, di mana Ahli Kitab pada hakikatnya adalah dari kalangan yang turut mempercayai kewujudan Allah, hari qiamat, ada peraturan-peraturan hidup tertentu, seperti akhlak mulia dan sebagainya. Cuma sahaja ketara pada penafian mereka terhadap kerasulan Muhammad SAW yg menyebabkan mereka menjadi KUFUR.


Dan adalah diharapkan menerusi perkahwinan dgn mereka ini, akan menyebabkan mereka lebih “dekat” dan “faham” tentang Islam dan keimanan yang hakiki, dan mudah-mudahan akan memeluk Islam yang mana jauh lebih baik daripada agama Ahli Kitab yang kufur.


Peringatan Tambahan


Saya ingin tegaskan juga sekali lagi, isu perkahwinan ini bukanlah suatu benda yang remeh. Dalam keadaan di mana di luar sana masih ramai orang Islam untuk dikahwini, sudah tentu amat tidak wajar jika wanita Ahli Kitab yang menjadi pilihan kita. Cuma bila mana ditanya sama ada boleh atau tidak, maka jawabnya: BOLEH


Cuba bayangkan juga suatu keadaan lain sebagai contoh situasi pelajar-pelajar Malaysia yang belajar di luar negara misalnya. Katakan tiba-tiba ada di kalangan wanita-wanita Kristian (Ahli Kitab) yang jatuh cinta dan tertarik pada lelaki Islam Melayu, dan begitu juga lelaki tersebut. Maka yang manakah lebih baik bagi mereka, kahwin atau berisiko jatuh ke lembah zina ?


Ulama-ulama misalnya seperti Syed Sabiq memakruhkan perkahwinan dengan Ahli Kitab sebagai mana yang disebut dlm kitab Feqh Sunnah.


Begitu juga Dr Yusuf AQ sebagasi mana yang telah saya sebutkan. Tidak ketinggalan Syeikh Mahmud Syaltut dan juga Syeikh Ibn Uthaimeen. Syeikh Ibn Uthaimeen dari KSA (Kingdom of Saudi Arabia) pernah menegaskan : "perkahwinan dgn perempuan ahli kitab banyak menimbulkan masalah kepada umat Islam dari timur dan Barat, dan org Islam mestilah berhati-hati memilih isteri utk dijadikan teman hidup"


Cuma pada kita, perlu nya pemahaman yang jitu dalam hal ini. Perlu kita sama-sama tahu dan dapat bezakan, antara DIHALALKAN dan juga DIGALAKKAN.


Sebagai kesimpulan dalam hal ini, maka jelas, perkahwinan antara lelaki Muslim dgn Ahli Kitab adalah DIHALALKAN tetapi TIDAKLAH DIGALAKKAN.

June 05, 2012

Bantulah anak yatim ini menuntut di UIA

Aina'a Mardhiyah Bt Zonbakry
Aina'a Mardhiyah Bt Zonbakry merupakan anak yatim serta anak sulong dari lapan beradik yang telah diterima masuk  ke Universiti Islam Antarabangsa di Petaling Jaya. Ibunya bernama Norlela Idris, mereka tinggal di Cherok To'kun, Bukit Mertajam.

Bukan mudah bagi seorang ibu tunggal membesarkan lapan orang anak yang masih kecil. Adiknya yang kedua Nurul Aliah kini menuntut di Sekolah Agama Tarbiah Diniah di Kulim. Adiknya yang ketiga Abu-Zar di Sekolah Tahfiz, Keladi, Kulim. Adik yg keempat Nurul Nazihah mengaji di Sekolah Tahfiz di Kanpong Pelet. Manakala adiknya yang empat lagi masih belajar di Sekolah Keb Juara, Cherok Tokun. 

Berat mata memandang, berat lagi bahu memikulnya. Sesiapa yang ingin membantu meringankan bebanan ibu tunggal ini, maka bolehlah memberi sumbangan terus kepada anaknya melalui Bank Muamalat atas nama Ainaa Mardhiyah Bt Zonbakry acc no 0701-0021945728.

Semoga Allah permudahkan dan memberkati segalanya.








October 16, 2011

Kursus Penyembelihan

Cherok Tokun 16hb Oktober 2011 - Masjid Jamek Cherok Tokun Bawah menganjur kursus 'Tatacara Penyembelihan dan Amali Menurut Islam 2011' pada hari ini di masjid Cherok Tokun. Kursus ini terbuka kepada para remaja Cherok Tokun.

Selain tatacara penyembelihan para remaja juga diajar cara membersih binatang sembelihan dan pada hari ini tiap seorang peserta dibekal dengan seekor ayam.

Para jemaah wanita akan membantu dalam menyediakan peralatan masakan untuk memasak ayam yang disembelih.

Majlis akan diakhiri dengan penyampaian sijil kehadiran dan dihidang dengan nasi berlaukkan ayam sembelihan.

August 22, 2011

Rebutlah peluang 10 malam terakhir

...mungkin Ramadhan ini yang terakhir buat kita..

Menghidupkan malam Qadr mempunyai fadilat yang amat banyak kerana Allah SWT menjadikan malam itu lebih baik dari seribu bulan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Ar-Rasul SAW telah bersabda:

Sesiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan akan diampunkan dosanya yang telah lalu dan dosanya yang akan datang, sesiapa yang menghidupkan qiyamullail dengan penuh keimanan dan keikhlasan akan diampunkan dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

Dosa itu merangkumi sama ada dosa kecil ataupun dosa besar. Tetapi pendapat yang terkenal mengenai hadith ini menunjukkan kepada dosa kecil sahaja yang akan diampunkan. Dosa besar tidak akan diampunkan kecuali dengan taubat nasuha serta memenuhi syaratnya iaitu menyesal di atas perbuatan itu, berazam tidak tidak akan mengulangi untuk melakukan dosa dan memulangkan hak sesiapa yang diambil.

Imam Nawawi berkata: Telah maklum bahawa pengampunan dosa hanyalah untuk dosa-dosa kecil sahaja.

Qiyamullail

Menghidupkan malam Qadr boleh dilakukan dengan mendirikan solat terawikh, membaca Al-Quran, bertahajjud, berzikir dan berdoa.

Solat adalah merupakan bekal. Bila dilakukan di keheningan malam, maka ia semakin memperkaya bekal. Bangun pada waktu malam merupakan mujahadah untuk memperkuat tekad dan kehendak, mengalahkan syaithan, dan melatih jiwa untuk tunduk kepada Allah. Zikir kepada Allah dan membaca tasbih pada waktu malam merupakan santapan ruhani dan bekal bagi ruh serta hati.

Setiap kita pernah melakukan dosa dan tidak sempurna dalam melakukan kewajipan. Kerananya sangat tepat bila kita mengetuk pintu Allah pada waktu sahur untuk meminta keampunan dan rahmatnya. Sebab waktu itu adalah merupakan saat terkabulnya doa. Doa pada waktu malam yang paling menyenangkan dan paling afdal; di tengah malam yang hening seorang hamba merendahkan diri untuk meminta kepada Tuhannya, agar memperkenan permintaannya.

Abu Umamah ra. telah berkata bahawa seseorang bertanya telah bertanya; "Wahai Rasulullah, do'a apakah yang paling didengar oleh Allah? Rasulullah menjawab: Doa di malam yang terakhir dan di setiap solat wajib." [HR Muslim]

Doa pada waktu sujud itu amat penting, kerana waktu sujud adalah detik seseorang dekat dengan Tuhannya. Oleh itu, sangat tepat bila seorang Muslim bersungguh-sungguh berdoa saat itu. Dari Abu Hurairah ra., bahawasanya Ar-Rasul saw. bersabda: Sedekat-dekat hamba tuhan pada tuhannya adalah saat ia bersujud, kerana itu perbanyakanlah berdo'a (waktu sujud.) [HR Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa'i]

Dari Abu Hurairah ra. bahawasanya Ar-Rasul saw. bersabda: Ketika malam sudah sampai sepertiganya yang terakhir, Allah turun ke langit dunia lalu berkata: Siapa yang berdoa kepadaku akan Aku perkenankan, dan siapa yang memohon ampun-Ku, akan Aku ampuni. [HR Bukhari dan Muslim]

Apakah patut kita menunda-nunda dan bermalas-malasan setelah janji yang menggiurkan seperti itu? Andai kata diumumkan kepada manusia: sesiapa yang datang pada malam tertentu, akan mendapat harta, daging segar, atau kekayaan dunia lainnya, tentu mereka akan segera datang dan berebut-rebut.

Rumah yang selalu dihidupkan dengan qiyamullail adalah rumah yang selalu dikunjungi malaikat, diliputi rahmat, dan dipenuhi kebahagiaan yang hakiki.

Hal yang dapat membantu kita untuk melakukan qiyamullail ialah:

  • Keikhlasan niat,
  • Memperkuat tekad,
  • Memperbaharui taubat,
  • Menghindari maksiat pada siang harinya,
  • Segera tidur,
  • Melakukan tidur siang hari, dan
  • Memohon bantuan dari Allah SWT.

Malam itu tidak ditetapkan dan ditentukan masanya, bahkan cuma diberitahu secara umum pada sepuluh malam yang terakhir yang terdiri dari malam-malam ganjil bulan Ramadan.

Ubadah bin al-Samit berkata bahawa pada suatu malam ar-Rasul saw. keluar untuk memberitahu kami mengenai malam Qadr. Tiba-tiba dua orang Islam sedang bertelagah. Lalu baginda bersabda, maksudnya:

Saya keluar untuk memberitahu kamu mengenai qiyamullail. Tiba-tiba sipolan dan sipolan telah bertelagah, lalu diangkat malam itu. Boleh jadi ianya lebih baik bagi kamu. Oleh itu carilah ia pada malam ke sembilan, ketujuh ataupun kelima.

Sebenarnya lailatul Qadr bukanlah diangkat disebabkan pertelagahan itu, tetapi yang diangkat itu ialah mengetahui dengan tepat, bila berlakunya malam Qadr. Ini dibuktikan melalui sabda baginda: Carilah ia.

Diikuti selepas itu dengan suatu peringatan bahawa pengangkatan ketentuan malam berkenaan itu adalah lebih baik melalui sabdanya: "Boleh jadi ianya lebih baik bagi kamu."

Ungkapan ini menjelaskan bahawa tidak memberi ketetapan malam tersebut adalah galakan untuk menghidupkan seluruh malam pada bulan itu ataupun sepuluh malam yang terakhir.

Malam... tanda-tanda dan waktunya

Allah swt. menetapkan bahawa waktu sebenar berlakunya malam Qadr tidak diberitahu secara jelas supaya manusia tidak bersikap malas. Sebaliknya Allah swt. menyembunyikan waktu terjadinya malam berkenaan supaya orang-orang Islam terus menghidupkan sebanyak masa yang mungkin sama ada pada waktu siang ataupun malam agar berterusan melakukan ibadat.

Hal yang demikian juga berlaku di dalam banyak perkara. Allah SWT menyembunyikan saat kematian dan waktu sampainya ajal supaya takut pada Allah berterusan dan seorang Muslim juga mentaati Tuhannya tanpa henti.

Ibnu umar ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah saw. bersabda:
Carilah ia (malam Qadr) pada 10 malam terakhir. Sekiranya seseorang daripada kamu merasa lemah atau letih, maka janganlah lagi dia ditewaskan pada tujuh malam terakhir.

Malam Qadr mempunyai banyak tanda dan alamat. Di antara tanda-tandanya ialah matahari terbit dengan sifat yang ia tidak mempunyai sinaran yang terik. Malamnya nyaman, tidak panas dan tidak pula sejuk, waktu pagi matahari terbit dalam warna kemerah-merahan.

Perkara utama yang sepatunya diingati ialah bahawa Malam Qadr adalah suatu malam yang penuh kelebihan dan kemuliaan. Setiap daripada kita perlu mengambil kesempatan untuk melakukan ibadat dan jangan sekali-kali menahan dirinya daripada menadah tangan untuk berdo'a. Dengan menyebut:

اللهم إنك عفو تحب العفوفاعف عني

"Maksudnya: Ya allah! Engkaulah yang Maha Pemaaf dan Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah diriku."

Imam Al-Sawi menyebut dalam kitab tafsirnya: Sebaik-baik doa yang dipinta pada malam itu ialah keampunan dan kesihatan.

Akhir kata, sama-samalah kita memohon kepada Allah agar memberi manfaat kepada kita dengan nilai-nilai kebaikan Ramadan serta bekal yang ada di dalamnya. Semoga Allah menjadikannya bermanfaat untuk kita.

[Daripada tulisan Abu Salman Said]

August 05, 2011

Kesilapan Kerap Muslim di Ramadhan

Pada hemat saya, kita bolehlah mengatakan bahawa objektif atau sasaran yang perlu dicapai oleh Muslim di bulan Ramadhan ini kepada dua yang terutama.

Iaitu taqwa dan keampunan. Perihal objektif taqwa telah disebut dengan jelas di dalam ayat 183 dari surah al-Baqarah.

Manakala objektif ‘mendapatkan keampunan' ternyata dari hadith sohih tentang Sayyidatina Aisyah r.a yang bertanya

kepada nabi doa yang perlu dibaca tatkala sedar sedang mendapat lailatul qadar. Maka doa ringkas yang diajar oleh Nabi SAW adalah doa meminta keampunan Allah SWT.

Bagaimanapun, kemampuan untuk mendapatkan kesempurnaan pahala ramadhan kerap kali tergugat akibat kekurangan ilmu dan kekurang perihatinan umat Islam kini.

Antara yang saya maksudkan adalah :-

1) Makan dan minum dengan bebas setelah batal puasa dengan sengaja (bukan kerana uzur yang diterima Islam).

Perlu diketahui bahawa sesiapa yang batal puasanya dengan sengaja tanpa uzur seperti mengeluarkan mani secara sengaja, merokok, makan dan minum.

Ia dilarang untuk makan dan minum lagi atau melakukan apa jua perkara yang membatalkan puasa yang lain sepanjang hari itu. (Fiqh as-Siyam, Al-Qaradawi, hlm 112).

Ia dikira denda yang pertama baginya selain kewajiban menggantikannya kemudiannya. Keadaan ini disebut di dalam sebuah hadith, Ertinya :

"sesungguhnya sesiapa yang telah makan (batal puasa) hendaklah ia berpuasa baki waktu harinya itu" (Riwayat al-Bukhari)

2) Makan sahur di waktu tengah malam kerana malas bangun di akhir malam.

Jelasnya, individu yang melakukan amalan ini terhalang dari mendapat keberkatan dan kelebihan yang ditawarkan oleh

Nabi SAW malah bercanggah dengan sunnah baginda. "Sahur" itu sendiri dari sudut bahasanya adalah waktu terakhir di hujung malam.

Para Ulama pula menyebut waktunya adalah 1/6 terakhir malam. (Awnul Ma'bud, 6/469).

Imam Ibn Hajar menegaskan melewatkan sahur adalah lebih mampu mencapai objektif yang diletakkan oleh Nabi SAW. (Fath al-Bari, 4/138)

3) Bersahur dengan hanya makan & minum sahaja tanpa ibadah lain.

Ini satu lagi kesilapan umat Islam kini, waktu tersebut pada hakikatnya adalah antara waktu terbaik untuk beristigfar dan menunaikan solat malam.

Firman Allah ketika memuji orang mukmin ertinya : " dan ketika waktu-waktu bersahur itu mereka meminta ampun dan beristighfar" (Az-Zariyyat : 18)

يا رسول الله , أي الدعاء أسمع ؟ : قال : جوف الليل الأخير ودبر الصلوات المكتوبة

Ertinya : "Ditanya kepada Nabi (oleh seorang sahabat) : Wahai Rasulullah :" Waktu bilakah doa paling didengari (oleh Allah s.w.t) ;

jawab Nabi : Pada hujung malam (waktu sahur) dan selepas solat fardhu" ( Riwayat At-Tirmidzi, no 3494 , Tirmidzi & Al-Qaradhawi : Hadis Hasan ; Lihat Al-Muntaqa , 1/477)

4) Tidak menunaikan solat ketika berpuasa. Ia adalah satu kesilapan yang maha besar.

Memang benar, solat bukanlah syarat sah puasa. Tetapi ia adalah rukun Islam yang menjadi tonggak kepada keislaman sesorang.

Justeru, ‘ponteng' solat dengan sengaja akan menyebabkan pahala puasa seseorang itu menjadi ‘kurus kering' pastinya.

5) Tidak mengutamakan solat Subuh berjemaah sebagaimana Terawih.

Ini jelas suatu kelompongan yang ada dalam masyarakat tatakala berpuasa. Ramai yang lupa dan tidak mengetahui kelebihan besar semua solat fardhu berbanding solat sunat,

teruatamnya solat subuh berjemaah yang disebutkan oleh Nabi SAW bagi orang yang mendirikannya secara berjemaah, maka beroleh pahala menghidupkan seluruh malam.

6) Menunaikan solat terawih di masjid dengan niat inginkan meriah.

Malanglah mereka kerana setiap amalan di kira dengan niat, jika niat utama seseorang itu ( samada lelaki atau wanita) hadir ke masjid adalah untuk meriah dan bukannya atas dasar keimanan

dan mengharap ganjaran redha Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Nabi SAW di dalam hadith riwayat al-Bukhari.

Maka, "Sesungguhnya sesuatu amalan itu dikira dengan niat". (Riwayat al-Bukhari)

7) Bermalasan dan tidak produktif dalam kerja-kerja di siang hari dengan alasan berpuasa.

Sedangkan, kerja yang kita lakukan di pejabat dengan niat ibadat pastinya menambahkan lagi pahala.

Justeru, umat Islam sewajarnya memperaktifkan produktiviti mereka dan bukan mengurangkannya di Ramadhan ini.

8) Memperbanyakkan tidur di siang hari dengan alasan ia adalah ibadat.

Sedangkan Imam As-Sayuti menegaskan bahawa hadith yang menyebut berkenaan tidur orang berpuasa itu ibadat adalah amat lemah. (al-Jami' as-Soghir ; Faidhul Qadir, Al-Munawi, 6/291)

9) Menganggap waktu imsak sebagai ‘lampu merah' bagi sahur.

Ini adalah kerana waktu imsak sebenarnya tidak lain hanyalah ‘lampu amaran oren' yang di cadangkan oleh beberapa ulama demi

mengingatkan bahawa waktu sahur sudah hampir tamat. Ia bukanlah waktu tamat untuk makan sahur, tetapi waktu amaran sahaja.

Lalu, janganlah ada yang memberi alasan lewat bangun dan sudah masuk imsak lalu tidak dapat berpuasa pada hari itu.

Waktu yang disepakti ulama merupakan waktu penamat sahur adalah sejurus masuk fajar sadiq (subuh). (As-Siyam, Dr Md ‘Uqlah, hlm 278)

10) Wanita berterawih beramai-ramai di masjid tanpa menjaga aurat.

Ini nyata apabila ramai antara wanita walaupun siap bertelekung ke masjid, malangnya kaki dan aurat mereka kerap terdedah da didedahkan

berjalan dan naik tangga masjid di hadapan jemaah lelaki. Tatkala itu, fadhilat mereka solat di rumah adalah lebih tinggi dari mendatangkan fitnah buat lelaki ketika di masjid.

11) Memasuki Ramadhan dalam keadaan harta masih dipenuhi dengan harta haram.

Samada terlibat dengan pinjaman rumah, kad kredit, insuran, pelaburan dan kereta secara riba. Ini sudah tentu akan memberi kesan yang amat nyata kepada kualiti ibadah

di bulan Ramadhan, kerana status orang terlibat dengan riba adalah sama dengan berperang dengan Allah dan RasulNya, tanpa azam dan usaha untuk mengubahnya

dengan segera di bulan 'tanpa Syaitan' ini, bakal menyaksikan potensi besar untuk gagal terus untuk kembali ke pangkal jalan di bulan lain.

Nabi Muhammad menceritakan :-

ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلى السَّمَاءِ يا رَبِّ يا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Ertinya : menyebut tentang seorang pemuda yang bermusafir dalam perjalanan yang jauh, hal rambutnya kusut masai, mukanya berdebu di mana dia mengangkat tangan ke langit : Wahai Tuhanku...wahai Tuhanku... sedangkan makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram..Dan dia dibesarkan dengan memakan makanan haram maka bagaimana Kami mahu mengabulkan doanya.

( Riwayat Muslim, no 1015, 2/703 ; hadis sohih)

Justeru, bagaimana Allah mahu memakbulkan doa orang yang berpuasa sedangkan keretanya haram, rumahnya haram, kad kreditnya haram, insurannya haram, simpanan banknya haram, pendapatannya haram?. Benar, kita perlu bersangka baik dengan Allah, tetapi sangka baik tanpa meloloskan diri dari riba yang haram adalah penipuan kata Imam Hasan Al-Basri.

12) Tidak memperbanyakkan doa tatkala berpuasa dan berbuka.

Ini satu lagi jenis kerugian yang kerap dilakukan oleh umat Islam. Nabi SAW telah menyebut :-

ثلاثة لا ترد دعوتهم , الإمام العادل , والصائم حتى يفطر ودعوة المظلوم

Ertinya : "Tiga golongan yang tidak di tolak doa mereka, pemimpin yang adil, individu berpuasa sehingga berbuka dan doa orang yang di zalimi"

( Riwayat At-Tirmizi, 3595, Hasan menurut Tirmizi. Ahmad Syakir : Sohih )

Selain itu, doa menjadi bertambah maqbul tatkala ingin berbuka berdasarkan hadith.

إن للصائم عند فطره دعوة لا ترد

Ertinya : "Sesungguhnya bagi orang berpuasa itu ketika berbuka (atau hampir berbuka) doa yang tidak akan ditolak"

( Riwayat Ibn Majah, no 1753, Al-Busairi : Sanadnya sohih)

Sekian

Zaharuddin Abd Rahman